Mengapa ada hitam jika ada putih?
Mengapa ada tangisan jika ada kebahagiaan?
Mungkin tangisan muncul terlebih dahulu dibanding dengan munculnya kebahagiaan, layaknya pelangi, pasti ada hujan hingga menimbulkan pelangi. Namun, bukankah warna hitam tidak dapat menimbulkan warna putih? Sedangkan warna putih mungkin sangat cepat dihitamkan. Lalu, mana yang lebih dulu Kau ciptakan? Kegelapan atau keterangan? Sebenarnya aku sungguh tak ingin memperdebatkan tentang hal itu, namun hal itu selalu ada dipikiranku beberapa hari ini.
Layaknya seorang gadis biasa yang telah 3 bulan memasuki masa putih abu-abu, aku pun merasakan suatu kekaguman,atau mungkin awalnya kupikir hanya rasa kagum terhadapmu. Seiring berjalannya waktu, rasa kagum itu semakin menggebu, semakin menyala seperti lilin hingga melelehkan diriku sendiri.
Aku tak bisa menyangka saat itu aku sangat ingin untuk berkenalan denganmu, atau lebih dari itu? Saat itu dengan segala keberanian di diriku aku mencoba untuk mengenalmu, mencoba membangun percakapan denganmu. Entah apa yang ada dipikiranmu saat itu aku tidak tahu, yang aku tahu hanyalah kamu terlihat tak tertarik dengan percakapan yang susah payah kubangun.
Aku tak ingin menyerah, ah ini masih awal kamu masih belum tau aku, tapi apakah aku terlalu agresif untuk memulai semua percakapan ini? Pada saat itu aku sangat tidak peduli dengan semuanya. Saat itu yang kupikirkan hanya bagaiamana cara mendekati seorang laki-laki yang bahkan tak mengenalku sama sekali sebelumnya dan juga aku tak punya modal fisik yang membuatmu akan tertarik.
Aku berusaha selalu ingin menjadi gadis yang dibilang 'asik' tapi sepertinya cara itu juga gagal, lalu aku harus melakukan apa? Ah aku juga tidak memikirkannya lagi. Aku hanya terus ingin tau kabarmu, satu kata yang selalu membuatku tenang. Setiap hari aku selalu mendapat kabar darimu walaupun hanya sekedar percakapan dunia maya, hmm percakapan dunia maya ini sudah cukup membuatku sangat senang, aku tak bisa membayangkan bagaimana jika aku setiap hari selalu berbicara langsung kepadamu?
Berbulan-bulan aku menyimpan rasa ini sendiri, hingga pada akhirnya entah kenapa semua ini begitu rumit, semua yang tak kuharapkan bisa terjadi. Memang sejak lama aku telah tau bahwa kamu tak pernah tertarik padaku, apalagi mencintaiku, sangat mustahil. Tapi entah kenapa hari itu semua tiba-tiba rumit, siapa yang bersalah aku tidak tau, aku menganggap semua ini adalah salahku.
Hari itu kamu bertanya padaku, dan aku sangat mudah untuk menyampaikan
perasaanku berbulan bulan lamanya ini kepadamu, aku berkata ini salahku,
salahku telah terlalu mencintai seorang yang bahkan aku sudah tau sejak awal
tidak akan mau membalas perasaanku ini, semua ini salahku menyamakan kisah
tragis hidupku ini dengan novel-novel remaja, hari itu juga aku sadar bahwa
hidupku bukan novel remaja yang sering kubaca, aku sangat menyukaimu, aku
sangat terobsesi, sangat sangat sangat semuanya aku sangat menyukaimu. Kamu
selalu bilang kamu tidak ada istimewanya, entahlah aku juga bingung mengapa
perasaan ini semakin mekar padahal kamu selalu memangkas setiap perasaanku yang
tumbuh setiap hari. Aku juga tidak tau mengapa usaha yang aku perjuangkan
begitu keras berbulan bulan ini sungguh tak membuahkan hasil sama sekali? Ah
iya aku baru ingat lagi kisah cintaku ini tidak seperti di novel remaja yang
selalu berakhir bahagia. Mengapa aku masih sangat menyukai mu padahal sudah
beribu kali kamu menyakitiku? Mengapa setiap kata yang keluar dari mulutmu membuatku
tenang dan senang walaupun kata yang keluar sebenarnya menyakiti perasaanku?
Mengapa kamu dengan mudah mendekati dia padahal disini aku selalu mennggu
kabarmu? Semua pertanyaan ku ini sebenarnya dapat aku jawab sendiri, aku begitu
naif untuk mengakuinya bahwa kamu tidak menyukaiku. Pernyataan yang cukup jelas
untuk kisah cinta tragisku ini. Semua yang dilakukan dengan satu pihak tidak
akan membuahkan hasil akan menyakiti, entah akan menyakitiku atau kamu. Aku
selalu berterimakasih dan meminta maaf atas semuanya, aku ingin berterimakasih
bahwa kamu masih maumengenalku waktu itu, terimakasih bahwa kamu masih mau
membalas semua percakapan tidak penting yang kubangun, terimakasih telah mau
menatapku walau tidak menyapa, aku ingin meminta maaf tentang semua yang telah
mengganggumu. Aku hanya gadis yang baru masuk SMA dan menyatakan cinta. Aku
mencintaimu, biarlah ini urusanku. Kamu tidak mencintaku, biarlah itu urusanmu.